Sepenggal Kisah dari Ar Rahmah

Matahari dhuha memantulkan sinarnya melewati pohon-pohon rimbun diDesa Air Meles Atas. Seakan tahu bahwa di pondok pesantren Ar Rahmah sedang diadakan taujih bulanan, langit pagi ini bertahta sangat cerah.Sementara itu di lapangan pesantren seorang Ustadz berdiri berceramah di tengah-tengah para jamaah yang tersihir menyimak ceramahnya.Kadang terdengar riuh tawa dari para jamaah yang sebagian besar adalah santri remaja, tapi di lain waktu juga terdengar decak kagum dari para santri. Tema yang diangkat Ustadz tersebut bukan main-main,yaitu zinah.Tetapidengan analogi yang pas,Sang Ustadz berhasil membungkus materi tersebut dengan sangat santun namun tetap tegas.

Ustadz tersebut memang terkenal dekat dengan santri.Walaupun usianya sudah berkepala lima, ia tak ketinggalan zaman. Berita terbaru tentang video mesum para artis pun diangkatnya dalam ceramah kali ini, yang pada intinya mengingatkan bahwasanya jika manusia tidakmampu mengendalikan hawa nafsunya,maka ia bisa lebih rendah dari hewan.
Tak terasa waktu satu jam berlalu begitu cepat.
“Ya Allah. Engkaulah yang Maha Menguasai hati kami. Bungkuslah selalu hati kami dengan cahaya hidayah-Mu. Janganlah Engkau hancurkan kami dengan perangkap zinah ya Allah. Engkau telah banyak memberi kami nikmat, maka sempurnakanlah nikmat itu dengan keridhoan-Mu ya Rabb. Jangan tinggalkan kami disaat kami dalam masa-masa suli tmencari jati diri kami. Tuntunlah selalu kami menjadi hamba yang shalih. Aamin Ya Rabbal’alamiin.” Doa Sang Ustadz mengakhiri ceramahnya.

Ustadz Lukman, beliaulah orang yang aku maksud. Pimpinan pondok pesantren Ar Rahmah ini. Sosok panutanku yang sangat ku segani di pesantren ini. Dan akhir-akhir ini aku sangat ingin berbicara dengan beliau karena ada hal penting yang ingin aku utarakan, namun karena belakangan ini beliau sibuk aku jadi sulit untuk menemuinya, menurutku inilah waktunya.

Pada saat istirahat, aku langsung memanfaatkannya untuk mendekati Ustadz tersebut. Melihat sikapku yang terkesan agresif, “pengawal” di sampingnya spontan bergerak seakan ingin mencegahku. “Ono opo Sal? Mau cari gara-gara lagi di sini?” Rahmat dengan logat jawanya bertanya sinis padaku. Di lingkungan pesantren ini,kami menggunakan bahasa Curup sebagai bahasa harian, namun karena suku kami berbeda-beda,  maka tak jarang bahasa selain Curup pun terdengar. Ada orang Jawa, Rejang, Minang, Lembak, dan lain sebagainya. Sehingga ketika Jawa berbicara dengan orang Jawa,mereka berbahasaJawa,begitu juga Rejang, Minang,Lembak,dan lain sebagainya. Kecuali ketika pada hari bahasa, kami diwajibkan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa arab. Kebetulan keluarga Ustadz Lukman dan aku orang Jawa, maka ketika di luarhari bahasa, tak jarang kami berbahasa jawa.

“Ndak, aku hanya mau berbicara dengan Ustadz Lukman, bolehkan ?”

Ustadz Lukman menganggukkan kepala.

“Maaf Tadz, kayaknya ndak sopan kalo aku mengganggu Ustadz makan, saru. Bisakah kita berbicara setelah makan berdua saja?”

“Ora iso!! Abi sibuk, setelah ini beliau mau istirahat.” Potong Rahmat.

Ustadz Lukman menatap putra sulungnya tersebut. Ia pun tertunduk, mungkin malu.

“Apakah ada hal yang penting?” Tanya Ustadz Lukman kepadaku.

“Ss.. Sangat penting Tadz.” Tiba-tiba aku menjadi gugup.

“Baiklah, temui saya setelah acara ini.” Kata Ustadz Lukman.

“Kenapa Abi mau berbicara dengan orang seperti dia?”Rahmat kembali menunjukkan sikap tidak sukanya kepadaku.

“Sepertinya kamu ndak mau kalau Abi bertemu dengan dia,kenapa ?” Selidik Ustadz Lukman.

“Bukannya berprasangka buruk Bi,aku tahu bagaimana sifat Faisal. Umurnya sudahdua puluh tahunan, tapi masih saja berbuat maksiat, merokok, berantem,pokoknya yang buruk-buruk deh Bi. Masa Abi ndak tau sama santrinya sendiri.”KomentarRamat sambil melihatku sinis.

“Kamu ngomong ndak berprasangka buruk, tapi dari tadi nadayang kamu ucapkan penuh kecurigaan.”

“Abi jangan salah paham dulu, Rahmat cuma mau ngasih pelajaran aja ke dia.Dia itu playboy Bi, dengan wajahnya yang kayak gitu, dia bisa memikat banyak santriwati di sini. Mendekati zinah juga kan Bi?”

Aku menghela napas mencoba sabar. Rahmat sangat menyebalkan. Mentang-mentang aku hanyalah penjaga kebun pesantren ini, seenaknya saja ia menghinaku. Kalau saja Rahmat bukan anak dari pengasuh pesantren ini,sudah ku tampar mulutnya.

Astaghfirullah!! Aku tersadar. Mungkin ini ujian pertamaku untuk membuktikan bahwa aku benar-benar ingin insyaf. Ya Allah. . . . .

“Tuh kan kamu curiga lagi. Kamu tau banyak, memangnya kamu plototin terus heh? Ndak toh? Kenapa kamu orangnya mudah su’uzhan sih? Abi ndak pernah ngajari kamu seperti ini”. Ku lihat Ustadz Lukman bersikap bijak.

Ustadz Lukman kemudian tersenyum seraya berkata kepadaku.”Mau bicara tentang apa? Kira-kira lama ndak?”

“Lumayan lama sih Tadz, aku mau cerita tentang masalah pribadiku”.

“Ya sudah, nanti ba’da maghrib aja ya kamu temui saya di masjid kita, karena kalo sekarang saya ndak bisa lama-lama. Kebetulan sudah ini saya ada tamu. Ndak apa-apa kan?”

“Baik Ustadz, ndak apa-apa, maturnuwon.”

Aku pun beranjak pergi meninggalkan Ustadz Lukman dengan perasaan lega dan kembali ke kebun untuk mengurusi tanaman-tanaman.

****

“Tadz, saya ini orang yang banyak dosa, saya mau dihukum. Sebenarnya sudah lama saya mau menyampaikan hal ini kepada Ustadz, tapi belum ada kesempatan”. Aku memulai pembicaraan.

“Tunggu, tunggu. Kamu minta dihukum. Saya saja belum tau apa saluhmu yang mesti saya hukum. Coba jelaskan dulu, saya mau dengar!”

“Terlalu banyak Tadz dan terlalu besar, saya malu.Kalau Ustadz langsung menghukum saya tentu tidak akan malu da saya siap menerima apaun hukuman dari Ustadz, yang jelas saya telah berbuat dosa Tadz.”

Ustadz Lukman tersenyum, beliau tahu bagaimana sepak terjangku sebelum masuk ke lingkungan pesantren ini. Mudah-mudahan beliau masih memberikanku kesempatan untuk ku memperbaiki diri.

“Kenapa malu? Apa kamu kira saya akan menceritakannya ke semua orang?”

“Bukan begitu Tadz, tapi. . .”

“Mm.. Kalau begitu kamu bisa tetap merahasiakanya, jadi kamu ndak perlu dihukum.”

Gerakan Ustadz Lukman yang seolah-olah akan berdiri membuatku menjadi kelabakan.

“Jangan pergi dulu Tadz, kalau Ustadz pergi lantas siapa yang akan menghukum saya?’ Aku mencoba menahannya.

“Apa yang perlu saya hukum?” Lagi-lagi Ustadz Lukman membuatku merasa serba salah.

Suasana hening sesaat.

“Tapi kalau saya ngomong apa adanya, tentu Ustadz akan menghukum saya,”

“InsyaAllah ndak. Rasul aja ndak pernah marah walau kaum kafir quraisy sangat membencinya. Difitnah, dilempari kotoran unta, bahkan diancamakan dibunuh Rasul tetap tidak marah. Buktinyapada saat kemenangan Mekah, beliau tidak membalas walau pada saat itu mereka tetapkafir. Saya ndak lebih baik dari Rasul sehingga berhak memarahi kamu padahal kamu mau tobat,”

“Ustadz yakin?”

“InsyaAllah”, jawabnya mantap.

“Tadz, saya pernah minum bir. Apakah saya bisa diampuni Allah?”

Ustadz Lukman tersenyum seraya berkata,”Kamu bisa diampuni atau tidak itu urusan Allah,yang pasti jalan taubat selalu terbuka dengan taubat yang sebenar-benarnya”.

“Kalau yang ini Ustadz pasti tau, saya dulu suka mencopet dan mencuri, bagaimana Tadz?”

“Ya ya. Kalau yang ini lain lagi, kamu bukan hanya harus memohon ampun kepada Allah, tetapi juga harus meminta maaf kepada orang yang barangnya telah kamu curi dan meminta keridhoan kepada pemilik barangnya, syukur-syukur kamu bisa mengganti barangnya”. Kata-kata beliau cukup menemtramkan hatiku. Sepengetahuanku beliau orangnya cukup bijaksana. Mudah-mudahan saja kebijaksanaannya menyamai kebijakan seorang tokoh yang senama dengan beliau,dimana namanya diabadikan dalam salah satu surat pada kitab suci Al  Quran, kitab yang baru aku pelajari ketika aku masuk ke dalam lingkungan pesantren ini.”

“Bukan itu saja Tadz, saya juga pernah melakukan zinah. Ini yang sangat menjadi beban fikiran saya. Saya takut Allah ndak mau mengampuni saya. Saya juga malu kalo sampai nanti bertemu dengan orangnya”, tak terasa aku menjelaskannya kepada Ustadz Lukman dengan mata mulai merembeskan air mata.

“Sebenarnya dosa ini tergolong besar. Tapi jika kamu benar-benar ingin bertaubat, mudah-mudahan Allah berkenan mengampunimu.”

“Tapi bagaimana jika keluarganya tidak ridho Tadz?”

“Itu sebenarnya hak keluarganya, karena kamu telah membuat aib pada mereka. Kamu harus bertanggung jawab, mintalah maaf kepada keluarganya. Allah ndak akan meridhoimu jika kamu tidak meminta keridhoan kepada keluarganya”.

Penjelasan Ustadz Lukman benar-benar membuat hatiku miris. Aku benar-benar ingin membersihkan dirikudari dosa-dosa. Dari dosa besar hingga dosa yangterkecil sekalipun. Namun baru saja aku hendak membersihkannya, kebimbangan datang mempengaruhiku. Apakah aku pantas bertemu lagi dengannya?Apakah ayahnya mau memaafkan aku? huff. . entahlah.

Dengan linangan airmata disertai sesenggukan, aku menyampaikan keluh kesahku. Mulai dari pengalamanku setahun yang lalu ketika aku luntang-lantung di jalanan, mencoba mencopet Ustadz Lukman di pasar tengah, ketahuan tukang parkir,dihajar massa, hingga akhirnya Ustadz Lukman justru memaafkan aku dan menyelamatkanku dari amukan massa, bahkan aku yang ketika itu gelandangan, diberikannya pekerjaan mengurus kebun pesantren ini. Aku ceritakan kembali walaupun akuyakin Ustadz Lukman tidak membutuhkannya.

Mungkin Ustadz Lukman tidak mengerti apa yang aku katakan, karena aku mengatakannya sambil terisak hingga beliau menyetop curhatku,” baik, baik. Begini saja, saya akan membantu kamu menemui keluarga itu, berusaha memintamaafkan kepada mereka. Tapi sekali lagi, dimaafkan atau ndak adalah hak mereka. Saya hanya berusaha semampu saya. Akan saya katakan bahwa kamu benar-benar menyesal dan ingin sekali meminta keridhoan mereka. Atau kalau kamu siap, sya juga akan mengatakan bahwa kamu siap menikahinya.Gimana? Mau?”

Aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa.

“Sekarang sebutkan saja siapa yang kamu zinahi? Siapa tahu saya kenal dengan keluarganya”. Lanjut Ustadz Lukman.

Aku masih diam, belum menemukan kata-kata yangt epat.

“Ya ya ya. . . Saya bisa menebak apa yang sedang berkecamuk dalam hatimu. Memang sulit untuk meminta keridhoan keluarga dalam masalah ini. Tapi kita coba dulu, siapa tahu melihat kesungguhanmu mereka akan mau memaafkan”. Ustadz Lukman berbicara kepadaku penuh dengan kasih sayang, seakan-akan aku adalah anaknya sendiri.

Beliau kemudian memegang kedua bahuku,” Sekarang katakan nak, sopo toh orangnya?”

“Tapi bener Ustadz ndak marah?”

“InsyaAllah.

“O…orang yang sa..saya zinahi adalah A..annisa Tadz, putri Ustadz sendiri”.

“Opo??!!!” Ustadz Lukman tersentak mendengarnya. Beliau langsung melepaskan pegangannya di bahuku. Mungkin antara tak percaya dan kecewa sedang bercampurbaurdalam fikirannya. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, aku berusaha memilih kata-kata yang tepat, tapi lidahku kaku. Sepertinya penjelasanku tadi membuat Ustadz Lukman terpukul.

Setelah beberapa saat kami sama-sama diam, ku dengar Ustadz Lukman berkata lirih,” Oh Annisa, mengapa kamu seperti ini nduk. . . Tujuh belas tahun Abi membesarkanmu, kamu terlihat baik-baik aja. Tapi ternyata kini. . . Oalah cah ayu. . . ”

Kulihat Ustadz Lukman mengepalkan tangannya kanannya erat-erat, sepertinya beliau ingin menumpahkan segala kekecewaanya di wajahku. Aku pasrah, ku pejamkan mataku, kalau seandainya Ustadz Lukman membunuhku pun aku rela, yang ada di benaku saat ini hanyalah taubat, tekadmembersihkan diriku dari dosa-dosa. Dan ini adalah salah satu resiko yang harus ku tanggung.

Tak berapa lama aku memejamkan mata. Kudengar Ustadz Lukman beristighfar,” Astaghfirullahal’azim. Ya Allah, berikanlah hamba kesanggupan memikul amanah ini. jauhkanlah hamba dari sifat munafik. Berikanlah hamba kesabaran yang cukup ya Allah.

A’uzubillahiminasyaithanirrojim. Astaghfirullahal’azim.”

“Saya mengertiTadz,sangat mengerti. Mana ada orang tua yang sudi menikahkan anaknya kepada pemuda seperti saya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari saya yang hanya sebagai penjaga kebun ini. Akhlak saya bejat. Orang tua dan family pun saya ndak punya.” Sepertinya air mataku akan menetes lagi.

Afwan Tadz, asif  jiddan,  saya ndak mau membebankan Ustadz dengan masalah ini. Sekali lagi, saya hanya ingin Allah mau mengampuni saya. Kalaupun untuk itu mesti nyawa taruhannya saya siap. Silahkan hukum saya Tadz.”

Ustadz Lukman hanya diam,aku tak tahu apa yang ada di benaknya. Mungkin beliau menyesal mengapa waktu itu telah menolong aku dan membawaku ke lingkungan pesantren ini. Jika waktu itu beliau tidak menolongku, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

Setelah sesaat lamanya diam, beliau kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Begini saja, saya akan coba membicarakan masalah ini kepada Umminya, kemudian nanti shalat istikharah dulu.” Kata Ustadz Lukman mencoba tenang.

“Sekarang saya mau tau,gimana kamu bisa bertemu dengan Annisa?”

Aku berusaha mengingat-ingat kembali kejadian itu,” Kejadian ini terjadi empat hari yang lalu Tadz.Pada saat itu saya sedang merumput di bawah pohon pepaya. Kemudian datang dua orang gadis cantik berkerudung yang belakangan saya ketahui salah satunya adalah Annisa dan yang satu lagi dalah temannya. Annisa meminta salah satu pepaya yang telah masak. Katanya mau disajikan untuk tamu Ustadz yang baru datang dari Kota Bengkulu.”

“O iya, itu memang saya yang menyuruhnya.”

“Pada saat itu saya ambilkan pepayanya karena pohonnya cukup tinggi. Ketika saya memberikan pepaya tersebut, Annisa tersenyum kepada saya sehingga saya jadi salah tingkah.”

“Cukup!! Jangan diteruskan!”Potong Ustadz Lukman.

“Sekarang ceritakan, sejak kapan kalian mulai akrab?” Ustadz Lukman melanjutkan dengan pertanyaan.

“Akrab??” Kami ndak sampai akarab Tadz, kami hanya pernah ketemu beberapa kali saja.”

“Apa?! Baru bertemu beberapa kali saja sudah berani berzinah? Berapa kali kalian berzinah?”

“Cuma sekali Tadz itupun ndak sengaja”.

“Heh! Jangan pernah bilang kalau zinah itu tidak sengaja. Karena yang namanya zinah terjadi atas kesengajan dari nafsu.” Nada bicara Ustadz Lukman kembali meninggi.

“Kapan kamu berzinah dengan putri saya?”

“Ya itu tadi Tadz, berawal dari saya yang salah tingkah itu tadi”.

“Maksud kamu opo toh?! Ojo muter-muter. Coba jelaskan lagi”.

“Ketika saya memberikan pepaya tersebut, saya salah tingkah melihat senyumnya. Lantas saya langsung menundukkan pandangan saya dan tidak melihat ia lagi, tanpa sadar saya tersentuh tangannya. Itulah pertama kali saya menyentuh Annisa, saya khilaf. Saya berjanji pada Allah itulah terakhir kali saya berzinah. Saya ndak mau mengulanginya lagi.”

“Eh tunggu! Jadi yang kamu maksud perzinahan itu. . . .”

“Allahuakbarullahuakbar!!!”.

Belum selesai Ustadz Lukman mentelesaikan pertanyaannya, Udin si takmir masjid mengumandangkan adzan isya’.

****

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s