Cinta Kasih, Kemesraan dan Keindahan

Cinta Kasih, Kemesraan dan Keindahan

Mata Kuliah IAD/IBD/ISD

Disusun Oleh :

Pendi Putra

Dosen Pengampu :

Fauzan, M.Pd.I

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup

Jurusan Tarbiyah

Program Studi Pendidikan Bahasa Arab

2009

BAB I

Pendahuluan

  1. Pendahuluan

Cinta, kemesraan dan keindahan merupakan kata yang lazim kita dengar sehari-hari. Eksistensi kita sebagai manusia tidak dapat lepas dari semua itu. Kita semua membutuhkannya. Dengan cinta, kita tercipta di dunia, dengan cinta pula kita tumbuh sebagai manusia yang berbudi. Begitu pula dengan kemesraan dan keindahan, keberadaannya menjadikan hidup kita lebih bermakna.

Seiring dengan majunya arus globalisasi, kita seakan-akan terpengaruh oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan norma-norma ketimuran, diantaranya ialah salah persepsinya kita terhadap cinta kasih, kemesraan dan keindahan. Sucinya makna cinta yang telah dicontohkan oleh leluhur kita dari waktu ke waktu sudah mulai luntur. Berganti dengan makna cinta yang cendurung hedonis, materialis, seksualis, sehingga tak jarang terjadi tragedi-tragedi di sekitar kita yang beratasnamakan cinta, dikarenakan pemahaman cinta yang salah.

Berangkat dari pemikiran inilah, saya tergerak untuk mengkaji lebih dalam lagi makna cinta kasih, kemesraan, dan keindahan yang sebenarnya. Makna cinta yang sesuai dengan norma, agar kita sebagai insan pecinta dapat menikmai cinta kasih, kemesraan, dan keindahan tanpa penodaan.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan cinta ?
  2. Bagaimana hakikat cinta yang sebenarnya ?
  3. Apa saja pembagian cinta ?
  4. Apa yang dimaksud dengan kemesraan ?
  5. Apa yang dimaksud dengan keindahan ?
  1. Tujuan
  1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian cinta kasih
  2. Mahasiswa diharapkan dapat memahami hakikat cinta yang sebenarnya.
  3. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui apa saja pembagian cinta.
  4. Mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian kemesraan.
  5. Mahasiswa diharapkan dapat memahami pengertian keindahan.

BAB II

Pembahasan Materi

1. Cinta Kasih

A. Pengertian Cinta

Cinta, secara bahasa ialah rasa sangat kasih dan saying, atau sangat tertarik hatinya.[1] Adapun dari segi bahasa, cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolak naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya.[2] Sedangkan menurut Kahlil Gibran, cinta ialah perasaan untuk dirinya sendiri.[3]

B. Hakikat Cinta

Hakikat cinta yang sebenarnya ialah ketika cinta dapat membawa seseorang ke dalam taman syurga, tanpa harus melupakan segalanya. Kita boleh saja mencintai sesuatu dan bahagia karenanya, lantas jangan karena cinta yang begitu besar, membuat kita lupa akan hal lainnya. Cinta yang sejati, ialah cinta yang disandarkan kepada Allah SWT Sang Pemilik Cinta Sejati.[4] Dengan demikian, akan terbentuklah segenap cinta rasionalis, cinta yang tidak membabi buta yang menyebabkan kita buta karenanya.

C. Pembagian Cinta

1. Cinta Diri

Cinta diri erat hubungannya dengan upaya pemenuhan kebutuhan diri guna mendapatkan kenyamanan dalam hidup. Adapun gejala yang menunjukkan manusia cinta kepada dirinya sendiri, salah satunya ialah rasa cinta yang begitu besar kepada harta benda. Manusia pada umumnya beranggapan bahwa dengan harta benda, segala keinginan untuk mendapatkan kenyamanan hidup akan mudah untuk direalisasikan.

2. Cinta kepada Allah

Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan merupakan pendorong dan mengarahkannya kepada penundukan semua bentuk kecintaan lainnya.[5] Sehingga cinta kepada Allah merupakan puncak cinta manusia. Manusia akan menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia ketika ia bias merasakan cinta yang agung ini. Ibadah dirasakan bukanlah suatu kewajiban, tetapi kebutuhan, dan kebutuhan tersebut harus dipenuhi setiap saat agar rasa cinta kepada Allah senantiasa terjaga.

3. Cinta kepada Orang Tua

Orang tua adalah sosok yang paling ikhlas dalam memberikan cinta kepada anaknya.[6] Cintanya tiada bertepi, semua pengorbanan yang ia lakukan untuk sang anak. Kita belum kan tahu bagaimana dalamnya cinta orang tua kepada kita sebelum kita menjadi orang tua.

4. Cinta kepada Sesama Manusia

Cinta sesama juga merupakan fitrah manusia. Motivasi seseorang mencintai sesama manusia, menurut persepsi sosiologis disebabkan karena manusia tidak dapat hidup sendiri (manusia sebagai makhluk sosial). Dari pernyataan tersebut, jelaslah tergambar bahwasanya manusia membutuhkan orang lain untuk bersosialisasi, untuk saling membantu, serta saling melengkapi satu sama lain.

5. Cinta Seksual

Cinta erat kaitannya dengan seksual. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AL Imran ayat 14 berikut :[7]

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita”.

Cinta seksual merupakan bagian dari kebutuhan manusia sebagai faktor primer kelestarian umat manusia di bumi. Adapun penyalurannya hendaknya dilakukan sesuai syariat, yaitu ketika laki-laki dan perempuan telah resmi menjadi pasangan suami istri.

6. Cinta Erotis

Cinta erotis ialah cinta yang cenderung mengarah kepada cinta sepasang insane berlainan jenis. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat eksklusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.[8]

Cinta jenis ini kerap terjadi pada usia remaja, dimana pada masa ini remaja sedang mengalami masa pubertas. Sehingga pada masa transisi ini rasa ingin tahunya terhadap lawan jenisnya cukup besar. Cinta ini membutuhkan kontrol secara menyeluruh, agar mereka yang mengalaminya tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang melanggar norma.

2. Kemesraan

Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti sangatlah erat (karib).[9] Mesra juga dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan yang erat.[10] Secara istilah, kemesraan dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana kita memiliki hubungan yang sangat erat kepada seseorang, dan kita merasa sangat nyaman bila di dekatnya.

3. Keindahan

Keindahan berasal dari kata “indah” yang berarti dalam kedaan enak dipandang; bagus benar; elok. Keindahan berarti sifat-sifat keadaan yang indah.[11] Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.[12]

BAB III

Penutup

Dari pembahasan materi sebelumnya dapat saya tarik kesimpulan, bahwasanya cinta ialah naluri alamiah manusia dalam mengagumi orang-orang yang dikasihinya. Adapun cinta sejati ialah cinta yang disandarkan kepada Allah SWT. Cinta terbagi menjadi bberapa bagian, yang pada intinya menunjukkan bahwa manusia dalam mengaplikasikan cintanya terdiri dari berbagai jenis cinta.

Kemesraan adalah suatu perasaan yang indah dan terjadi dalam poses hubungan yang sangat erat. Sedangkan keindahan adalah keadaan dimana kita merasakan sesuatu yang elok dan enak untuk dinikmati, baik itu oleh audio maupun visual yang bermuara pada hati.

Daftar Pustaka

Basyir ,Abu Umar, Keajaiban Cinta, Solo : Rumah Dzikir, 2007.

Departemen Agama RI, Al Quran Terjemahan, Bandung : J-Art, 2005.

Gieb, Harri, Semestinya Cinta Kata-kata Cinta Kahlil Gibran, Tangerang : GagasMedia, 2007.

Hakim, Ihsan Nul, dkk, Ilmu Budaya Dasar,Curup : PSKK STAIN Curup, 2008.

Jamal,Khalid , Ajari Aku Cinta, Surakarta : Ziyad Visi Media, 2007.

Podo, Hadi dan Joseph J. Sulvian, Kamus Ungkapan Indonesia, Jakarta : Gramedia, 2000.

Sulaiman, Munandar, ILmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, Bandung : Refika Aditama, 2005.

Wahyuni, Sri, KBBI, Jakarta Barat : Team Pustaka Phoenix, 2007.


[1] Sri Wahyuni, KBBI,(Jakarta Barat : Team Pustaka Phoenix, 2007) hlm.162.

[2] Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta, (Surakarta : Ziyad Visi Media, 2007) hlm.16.

[3] Harri Gieb, Semestinya Cinta Kata-kata Cinta Kahlil Gibran, (Tangerang : GagasMedia, 2007) hlm.1.

[4] Ibid.,hlm.2.

[5] Munandar Sulaiman, ILmu Budaya Dasar Suatu Pengantar, (Bandung : Refika Aditama, 2005) hlm.78.

[6] Abu Umar Basyir, Keajaiban Cinta, (Solo : Rumah Dzikir, 2007) hlm.83.

[7] Departemen Agama RI, Al Quran Terjemahan, (Bandung : J-Art, 2005) hlm.51.

[8] Opcit.,hlm.80.

[9] Sri Wahyuni, KBBI,(Jakarta Barat : Team Pustaka Phoenix, 2007) hlm. 55.

[10] Hadi Podo dan Joseph J. Sulvian, Kamus Ungkapan Indonesia, (Jakarta : Gramedia, 2000) hlm. 337.

[11] Opcit.,hlm.352.

[12] Ihsan Nul Hakim, dkk, Ilmu Budaya Dasar,(Curup : STAIN Curup, 2008) hlm.159.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s